Selasa, 15 Desember 2009

Nama saya Bright


kalau saya lahir sebagai anak laki-laki, itu kata papi.

Harapannya tentu tinggi, makanya dia siapkan nama Bright. Nama depan yang sangat tidak biasa dipakai di negara asal kata ini, apalagi di Indonesia, tahun 70an.

Dia berharap hidup saya bersinar.

Begitu lahirnya perempuan, nama saya Agnes. Nama yang, juga tidak biasa, untuk dipakai seorang muslim (seumur hidup saya akhirnya nama ini jadi bahan pertanyaan banyak orang, juga becandaan, setelah muncul Agnes Monica).

Tapi nama ini juga mengandung harapan. Papi bilang, dia punya rekan kerja di Singapore, yang smart, pretty, always happy. Papi mau saya seperti dia. Jadilah saya Agnes, seperti nama teman Papi itu.

Kalaupun akhirnya saya jadi seperti ini : gendut, hitam, boyish, berkacamata tebal (minus 7 lho), saya rasa dia juga tetap bangga pada saya (walaupun dalam hati mungkin kecewa, hehehe..)

Karena dia pernah bilang (ketika saya 2 SMP, tumben-tumbenan dia melarang pergi camping, padahal biasanya ngasih aja) : anak papi, harta papi, kalau kamu tidak ada, hidup papi seperti tidak punya apa-apa.

Dulu sih saya tetap ngambek, karena ngotot kepingin pergi. Tapi sekarang saya pikir. Itu adalah kata-kata yang sangat membangkitkan harga diri. Bahwa seorang anak, seperti apapun dia, adalah harta paling berharga.

Dibanding Halle Berry yang mengalami kekerasan dari ayahnya, dan berkata bahwa dia beruntung punya seorang guru yang bisa membangkitkan harga dirinya.. Saya sangat beruntung.

Sekarang Papi sudah tidak ada. Dia pergi tepat 10 hari umur anak pertama saya, cucu pertamanya. Anak laki-laki diantara keluarga kami yang isinya perempuan semua.

Saya tetap gendut, kumal (saya pernah terpaksa ikut kursus kecantikan yang didaftarkan kantor, karena sebagai kepala cabang, saya dianggap lusuh...)

Tapi saya yakin Papi tahu, bahwa apapun yang terjadi pada saya, jatuh bangun yang ada, saya tetap berusaha hidup saya sesuai harapannya : Bright !

Terimakasih doanya, Papi..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar