Minggu, 27 Desember 2009

IMPIAN DI VILLA TDA - INVESTASI UNTUK RUMAH TINGGAL (some repeated)

Pak Rawi Wahyudiono http://rawiwahyudiono.wordpress.com/2009/10/10 adalah seorang teman dari TDA Bekasi (kita belum pernah ketemu Pak, semoga gak marah diaku-aku teman) yang sedang antusias dengan masalah property. Lewat Property Plus, semangatnya menular ke teman-teman di TDA Jaktim. Sehingga akhirnya saya ketemu blog Pak Rawi.
Seru juga mengikuti lika-likunya memperdalam property bersama TDA dan EU(seru juga tulisan2 di blog-nya), Insya Alloh bisa jadi boss property..
Saya mendukung semangat untuk mendirikan Villa TDA. Tapi saya ada harapan, semoga bisa dipertimbangkan :
Sebaiknya tidak hanya developernya yang TDA, tapi juga penghuninya. Sehingga kompleks perumahan harus dibuat strategis dan kondusif untuk kegiatan bisnis.
Caranya :
  1. Perhitungkan lebar jalan didepan rumah. Terus terang, developer hanya menyerahkan pada pembeli untuk melihat site plan pembangunan, dan pembeli akan menterjemahkan sendiri apa artinya ROW di depan kavling yang dibeli. ROW 16 pasti dianggap lebar jalan 16 meter. ROW 7 lebar jalan 7 meter. Padahal prakteknya hanya 60% yang efektif untuk kendaraan, karena sisanya untuk pengairan dan penghijauan. ROW 7, artinya jalan yang bisa dipakai lewat cuma 4 meter. Coba bayangkan bila kondisi rumah berhadap-hadapan. Berarti mobil tidak bisa parkir di jalan (karena bila 2 rumah berhadapan saling parkir mobil di depan rumah, tidak ada space lagi untuk lewat). Susah dong, untuk pengembangan bisnis.
  2. Buatlah fasos minimal untuk warga berupa lapangan olahraga. Ketua RW atau siapapun, bisa mengkoordinir untuk mengadakan bazaar atau pasar kaget rutin di lapangan ini. Sangat bermanfaat untuk penghuni belajar jadi TDA. Atau bisa juga ber bazaar di jalan, dengan catatan jalan cukup lebar untuk itu.
  3. Please, please, jangan buat cluster atau portal sana-sini. Biarkan warganya aktif menggiatkan siskamling (siskamling warga cocok untuk ajang silaturahmi warga laki-laki, kalo perempuan 'kan di arisan). Kompleks tertutup tidak feasible buat bisnis. Karena mau masuk saja sudah harus nyerahin KTP. MMD... Males Masuk Deh...
  4. Daerah terbuka juga memudahkan angkutan umum lewat. Nature-nya angkot itu, memang sebanyak mungkin muter-muter. Jalan-jalan sempit di daerah Rawamangun padat dengan toko, distro, kursus, warung, apapun... Ya, karena angkot terbuka lewat disana. Yang, diuntungkan warganya, tidak perlu jalan jauh-jauh untuk nyetop angkot and lingkungan kita jadi asyik untuk bisnis.
TDA dan EU cukup aktif mengkampanyekan bahwa Indonesia idealnya punya 2 juta entrepreneur. Percaya deh, seperti koin Prita, kampanye ini banyak dapat sambutan. Belum kelihatan memang, karena saat ini sebagian besar masih dalam bentuk embrio. Kaitannya dengan Villa TDA? Daerah yang ramai kegiatan bisnis, awalnya mungkin macet dan crowded, tapi selama ini pemerintah juga tidak diam, pelan2 difasilitasi deh daerah yang sudah ramai. Lumayan, jalan dibagusin, dilebarin, banyak perumahan baru disekitar, naik deh harga rumah kita.
Demikian harapan saya, mohon sharingnya..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar