Jumat, 01 Januari 2010

Mengenalkan Anak pada Dunia Usaha

Mengenalkan anak pada dunia usaha, awalnya saya coba cari 'literatur pembenaran'. Salah satunya ada di http://blog.keuanganpribadi.com/mendidik-si-ucup-menjadi-pengusaha, atau buku Mendidik Anak Menjadi Pengusaha dari Wiji Suprayogi.

Alhamdulillah, kegiatan paling menyenangkan bagi kedua anak saya adalah : bersama mamanya. Mungkin karena saya harus meninggalkan rumah untuk bekerja lebih dari 12 jam sehari, sementara papanya adalah pelaut yang berbulan-bulan baru pulang. Jadi they're always miss their parent. Sehingga diajak kemanapun, anak-anak tetap happy, selama bersama mama...

Selain ikut les untuk mendukung pelajaran sekolah, anak-anak hanya sedikit kenal game yang hanya hura-hura, seperti balap motor, fighting, dsb. Kebanyakan game yang mereka punya adalah game bekerja. Jadi pelayan restoran, punya toko, pengasuh anak, dsb. Tujuannya supaya mereka tidak awam dengan dunia cari uang saku dimasa sekolah.

Selanjutnya ya mereka ajak mereka melihat seperti apa dunia kerja itu. Dulu, ayah saya bekerja di perusahaan asing retail. Setiap minggu dia ajak saya muter keliling memeriksa toko-toko, melihat dia menyapa customer, memuji dan menegur pegawai, dan berdiskusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi toko tersebut. Pengalaman tersebut cukup bermanfaat untuk diaplikasikan ketika saya ditempatkan di cabang oleh kantor, dimana saya harus berhadapan dengan retail customer. Setiap minggu saya punya tugas tambahan untuk menyapa customer sekedar atensi atau untuk menyampaikan produk baru. Sayangnya saya tidak bisa ajak anak-anak. Karena bisnis kantor saya berbeda dengan bisnis kantor ayah saya. Kalau saya bawa anak-anak, malah jadi bumerang, karena saya terlihat tidak profesional.

Oke, ada waktunya untuk mengenalkan mereka dunia kerja formal nantinya. Sekarang waktunya dunia informal. Jadi pedagang dululah. Akhirnya pilihan pada barang yang digemari anak-anak : mainan, makanan, atau pakaian. Pilihan jatuh pada pakaian anak. Saya ikut sertakan mereka untuk memilih model, melipat pakaian, menggantung, dan menempelkan label harga.

Selanjutnya mereka akan saya ajak jualan. Insya Alloh mereka bisa menjadi anak-anak yang kreatif, tabah dan dan pantang menyerah.

Ada satu pembenaran lagi yang saya peroleh :

Marti Ahtisaari mantan presiden Finlandia berkata dalam penganugrahan nobel (disiarkan di RCTI tanggal 31 Desember 2009) : Saat ini terdapat 1.3 milyar kaum muda yang membutuhkan pekerjaan. Hanya 300 juta yang berhasil mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang pantas. Kemana 1 milyar sisanya? Akan kita biarkan jadi kriminal, atau direkrut oleh teroris? Mendidik mereka jadi entreprenur adalah cara untuk mencegah hal tersebut.

Well, banyak benarnya. Bahkan perusahaan besarpun akan mengalami masalah penurunan market share bila kebanyakan pegawainya lebih suka mengerjakan tugas-tugas administrasi. Jiwa entrepreneur tidak hanya berguna untuk diri sendiri, tapi juga untuk perusahaan tempat kita bekerja, bila kita menganggap perusahaan sebagai milik sendiri yang perlu dijaga dan dikembangkan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar