Senin, 19 April 2010

COBA - COBA INOVASI


Bila usaha sudah berjalan, dan kelihatannya hanya memiliki kemajuan datar, apa ya enaknya?


Paling enak memang kita lakukan ekspansi usaha. Tadinya hanya Lapak, menjadi punya Toko. Namun berhubung punya Toko modalnya tidak sedikit, saya coba untuk bermain dengan mengutak-atik kondisi yang ada.


Item jualan saya adalah : kaos dan batik. Kaos untuk dewasa dan anak-anak. Karena space terbatas, kaos anak-anak menjadi sulit terlihat. Selama ini saya menggunakan media kaca mobil untuk pamer barang, dan saya melihat masih ada bagian dari mobil yang masih kosong dan dapat dipergunakan : atap.


Saya menggunakan 2 (dua) buah kursi plasik bakso untuk sarana tempat menggantung tali yang diletakkan di kanan dan kiri. Tali rafia yang saya bentangkan tersebut saya gunakan untuk menggantung kaos anak-anak.


Sabtu jam 8 malam, saya coba jajal pasang sana-sini. Naik turun naik turun, cukuplah untuk membuang kalori. Kegiatan lapak memang efektif membuat kurus. Hasilnya bisa kita lihat besok minggu..


Tetangga lapak saya bilang : Busyet... Pajang semua...
Ibu saya bilang : Kayak jemuran rumah susun...
Saya bilang : Namanya juga usaha... (tawakal dot com)

Bagaimana dampaknya pada penjualan?

Terus terang jawabannya : Nggak ngaruh!
Bahkan tidak satupun kaos anak yang terjual hari itu. Hiks!

Mengapa? Mungkin karena barang yang dipajang adalah untuk konsumsi anak-anak, sementara peletakannya terlalu tinggi. Jadi anak-anak tidak bisa lihat bahwa di atas sana ada Spongebob lho... Dan karena pengunjung dimungkinkan untuk melintas cepat, jangkauan pandang hanya yang datar2 saja... jadi meletakkan di atas, dianggap mubazir...

Tidak apa-apa, minimal beberapa ratus kalori pasti terbuang hari itu.
Dan hitungan kegagalan saya masih jauh dibanding Thomas Edison. Bahkan kalo Bill Gates tahu, mungkin dia akan call saya, karena kabarnya dia suka meng-hire orang2 yang pernah merasakan kegagalan tapi tetap semangat.

Minggu depan saya, sudah punya rencana untuk mulai cari inovasi baru : ekspansi waktu dan tempat ngelapak..

Bismillah...














Sabtu, 16 Januari 2010

LAPAK PULOMAS











Pengusaha (Lapak) Modal Besar (serius bisnis lapak)











Pengusaha (Lapak) juga Modal Besar (niat bisnis lapak)








Model aneka Lapak : Gelaran ...








Gantung-gantung niat...








Gantung-gantung alakadar. Tipikal TDA amfibi...











Makin ke tengah, makin adem, makin banyak penjual dan pembeli



Setelah 2 minggu di Bazaar Vila Nusa Indah 3, akhirnya saya coba pindah ke Pasar Kaget Pulomas. Sebenarnya untuk yang baru belajar, Bazaar Vilani 3 ini lumayan, tapi karena jauh banget dari tempat tinggal, saya tekor melulu di bensin dan tol.

Hari Minggu pertama berangkat habis subuh. Sampai disana saya tanya ke tukang parkir, kalo mau ikut jualan ijinnya ke siapa. Langsung saja saya juga minta nomor HP bapak 'pengelola' tersebut, daripada saya repot cari-cari. Maklum, Pasar Kaget Pulomas kabarnya panjangnya 2 kali Pasar Kaget Kalibata, dan saat subuh suasana ribet dengan pedagang yang mulai persiapan.

Karena dianggap baru belajar, saya terserah mau pilih dimana. Biaya retribusi per harinya Rp 5.000,. ditambah Parkir Rp 1.000,- dan iuran RW Rp 1.000,-. Waktu jualan biasanya sampai jam 12 siang.

Pada batas jalan (trotoar) di kanan kiri jalan ada yang sudah diberi nomor untuk ukuran 1 meter. Saya lihat nomor sudah sampai 150 di kanan dan kiri jalan. Berarti ada sekitar 300 pedagang di Pasar Kaget Pulomas.
Karena sudah tidak kebagian tempat yang bernomor, saya parkir saja meneruskan barisan lapak-lapak. Tempatnya belum dinomori karena nyaris diujung. Setelah saya masih ada sekitar 5 baris pedagang di kanan kiri yang ambil tempat.
Langsung deh keluarkan semua 'bekal' yang ada. Formasinya masih seperti di Bazaar Vilani 3. Gantungan baju, body display, kaos-kaos. Karena berangkatnya terburu-buru, ternyata saya hanya membawa separuh barang dagangan yang saya punya. Ya, sudah, digelar saja...

Hari pertama ini, untuk pertama kali sejak mulai jualan saya bisa dapat untung setelah dipotong biaya-biaya. Omzetnya masih sekitar Rp 400.000, untungnya Rp 75.000,-.
Di blog-nya mas Ananto, (http://hendrainc.blogspot.com/2007/03/ananto-sharing-tda-lapak-tangerang.html) katanya di Pasar Kaget Tangerang di hari pertama dalam semalam bisa dapat omzet Rp 1.6 juta, padahal belanja barang hanya Rp 1.3 juta. Hebat-hebat... Insya Alloh, saya juga bisa... nantinya.

Saya selesai jam 10 pagi. Maklum, anak-anak 'kan perlu disiapin makan siang.

Hari Minggu kedua, saya lebih siap, pokoknya tidak ada yang ketinggalan (termasuk body lotion untuk menghindari gosong matahari). Saya ambil tempat di lokasi yang kemarin. Well, dari sini saya mulai ingat pelajarannya Bapak Marketing abad 20 Peter F. Drucker : bahwa lokasi itu menentukan. Karena cuaca pagi itu cerah banget, jadinya pengunjung mudah lelah untuk terus menelusuri jalan. Mereka hanya melihat dari kejauhan untuk kemudian langsung balik badan... Grak!! Jadi, bagaimana dagangan saya mau dibeli, kalo dilewati saja tidak. Padahal di deret setelah saya, masih ada jualan yang bagus2 lho. Tapi karena pohonnya tidak rindang, jadinya pada malas jalan sampai ke ujung.










Hari Minggu ke 2.

Syukur alhamdulillah, karena tertolong variasi barang (yang minggu lalu tertinggal), omzet saya naik sedikit (puluhan ribu saja) dari minggu lalu. Untungnya juga naik sedikit.

Saya juga dapat info bahwa selama petak bernomor belum ada yang resmi 'memilikinya', pedagang bebas-bebas saja menempati tempat manapun. Oke, minggu depan saya akan datang lebih pagi untuk coba ambil posisi ditengah medan perang (maksudnya pede jualan ditengah para lapak modal besar).









Hari Minggu ke 3

Hari Minggu ketiga. Sebelumnya Saya sudah dapat info bahwa untuk dapat lokasi bernomor saya harus bayar Rp 200.000 per meter, berlaku seumur-umur (selama Pemda tidak ngusir). Selain itu ada kartu anggota Pasar Kaget Pulomas Rp 50.000 setahun. Biaya tersebut diluar pungutan harian Rp 7.000,-.
Saya ambil lokasi agak ke tengah, tapi di tempat yang belum diberi nomor (takut kalo harus berantem dengan 'pemiliknya', bila sudah ada). Alhamdulillah cuaca sejuk banget (karena semalam hujan). Karena posisi sudah agak ke tengah, saya bisa melihat jumlah pengunjung lebih banyak. Omzet saya naik sedikit lagi, jadi Rp 800.000,- untungnya Rp 160.000,-. Masih sedikit ya? Karena saya dengar pedagang lapak biasanya ambil untung diatas 100%. Tapi tahapan saya memang masih begini : Modal kecil, sehingga tidak bisa dapat diskon dari kulakan; dan Masih Pemula, sehingga harus jadi malaikat (kasih harga murah dan service memuaskan) bagi pembeli. Wajar deh, untungnya gak bisa gede.. Insya Alloh, ada masanya saya bisa untung lumayan tapi tetap jadi malaikat.
Sebelumnya saya sudah diberi info oleh si Bapak, bahwa untuk dapat petak bernomor saya harus membayar Rp 200.000,- per meter berlaku seumur-umur (selama tidak diusir Pemda), ditambah biaya kartu anggota Pasar Kaget Pulomas Rp 50.000,- untuk setahun. Biaya ini diluar pungutan harian Rp 7.000,-.

So I beg (without cry) untuk jangan dulu diikutkan nomor. Nggak apa-apa deh sementara saya jadi Mojok Mania. Karena angka segitu gede benar kelihatannya. Setiap jualannya saya hanya bawa sekitar 4 lusin kaos, jadi asli deh saya gak nyaman berada disamping pedagang lapak profesional. Tapi, bila prospek saya sudah ada harapan menuju kesana, dengan senang hati deh saya ikutan. Saya tanya kanan kiri, ternyata ada yang sudah jualan 2 bulan tapi hanya kena pungutan harian. Ternyata seperti halnya pengunjung, Bapak Pengelola itu juga capek kalo harus jalan sampai ke ujung. Jadi batasan pengawasannya hanya sampai pohon rindang, hehe...
Dari surving dan sesama teman lapak, sedikit-sedikit saya mulai dapat info lokasi Lapak yang lain. Di Kalibata Stekpi, pungutannya sekitar Rp 10.000 - Rp 30.000 per hari (belum ada info tentang biaya patok lokasi), di Tangerang Rp 100.000 per malam, di Sogo Jongkok Plaza Mandiri pungutan per hari Rp 5.000,- plus biaya patok tempat Rp 750.000 per bulan. Di Cibinong sekitar Rp 5.000 - Rp 10.000 (Rp 500 - Rp 1.000 per pungutan, tapi yang mungut bisa 10 orang). Di Taman Mini sekitar Rp 30.000 belum termasuk ongkos masuk orang dan mobil. Kalo di Pulomas sepertinya saya susah menjual barang diatas Rp 20.000,- di Taman Mini kabarnya lebih menengah ke atas.

Bila dibandingkan ikut Bazaar jelas lebih murah, karena event2 Bazaar di lokasi perkantoran/acara2 yang ditawarkan EO rata-rata mematok Rp 350.000,- per hari. Pantesan harga barang di Bazaar nggak ada yang murah ya...

Hari Minggu ke empat. Omzet saya anjlok total sampai Nol. Alias saya tidak bisa jualan karena hujan deras. Pedagang yang sudah terlanjut datang hanya bisa parkir, cuma pedagang makanan yang sepertinya masih bisa buka. Pembelinya adalah pedagang yang tidak bisa jualan. Karena sepanjang lokasi jalannya tergenang, dan hujan turun cukup deras, dijamin nyaris tidak ada pengunjung yang mau mampir.

Padahal setelah omzet yang lumayan di minggu ke tiga Pulomas, saya kulakan barang cukup banyak lho. Menghabiskan modal hasil omzet selama 1 bulan jualan. Selain itu, hari ini suami bisa ikut menemani, jadinya mau sekalian show off ke investor, dalam rangka minta tambah modal, gitu....








Hari Minggu ke 4. Hujan.....

Nggak apa-apa, momen penggantinya juga asyik : berduaan makan bubur ayam ditengah hujan.
















































Jumat, 08 Januari 2010

Lapak : Memulai Usaha Murah Meriah Mudah

Sejak kenal TDA 2 tahun lalu, terus terang agak sulit untuk mulai action karena terbentur masalah mental (gaji dan posisi di kantor sudah lumayan). Sehingga apapun rencana bisnis yang ada dipikiran selalu mentok, karena selalu ujung-ujungnya (refleks aja) dibanding-bandingkan dengan gaji. Belum lagi, karena masalah gaji dan kedudukan di kantor ini, membuat dukungan keluarga jadi minus.
Awalnya saya coba bikin toko online. Barang2 sudah dibeli. Pesan nama hosting seratusribuan setahun. Ketika menghubungi web designer, dia minta 2 juta. Akhirnya saya lebih memilih membuat toko online dengan panduan buku joomla beli di Gramedia. Ada CD, dan caranya mudah, harganya gak sampai 50 ribu. Tapi, sampai sekarang nggak jadi2.

Kenapa?

Maklum, saya 'kan berstatus Mom. Nah, anak2 pada aneh, tumben lihat mamanya libur kok betah dirumah aja tapi tidak mau ajak main mereka ('kan mama sibuk di depan komputer), buntutnya malah pada aktif colak colek mama. Minta gendong, minta mandi, dsb. Yang enak pengasuh2nya. Bisa telpon-telponan pacar. Hehe..

Kegiatan motret, menentukan harga, ngikuti step by step petunjuk di buku, ternyata capek benar bila dilakukan sendiri. Terutama bila item barangnya cukup banyak.

Intinya, saya kecape-an. Pelan-pelan berhenti deh persiapan buka toko online-nya. Dimantapkan dengan peristiwa kebablasan mendelete program joomla-nya sewaktu sedang menghapus program2 game di komputer.

Lewat deh target TDB 90 days Challenge dari Pak Rony.

Tapi, karena virusnya masih ada di dalam hati, sekali-sekali saya surving dan baca-baca terkait mompreneurship. Hanya saja, motivasi get other income sudah hilang. Saat ini pengalaman masuk dunia entrepreneur lebih saya perlukan untuk memperkaya kehidupan anak-anak.

Ketemu blognya Mba Lina. Sepertinya kondisi sehari-hari dia mirip saya. Blognya di http://linasuharlina.blogspot.com/ sangat inspiratif (tapi sekarang kegiatan bisnisnya justru lagi mandek, semoga bisa dilanjutkan lagi. Positifnya, kisah jatuh bangunnya Mba Lina ini bisa menjadi input yang sangat berharga).

Akhirnya saya jadi tertarik memperdalam ilmu perlapakan. Karena sepertinya hal yang paling mudah dan nggak jelimet untuk dijalani. Lapak, sebenarnya pedagang kaki lima 'kan? Tumben, saya kok nggak kepikiran malu atau apa, gitu ya... Virus entrepreneurnya dah lumayan masuk nih..

Selain Mba Lina, inspirasi juga banyak dari kegiatan TDA yang berlapak ria, antara lain blognya Mas Ananto http://hendrainc.blogspot.com/2007/03/ananto-sharing-tda-lapak-tangerang.html. Kisahnya Pak Hadi Prayitno juga seru http://balenajwa.blogspot.com/2009/04/ngelapak-di-tmii.html. Atau sharingnya Pak Tony Lisaffwan (sekarang blog-nya dimana sih, Pak?) sewaktu ikut Pasar Kaget Kalibata depan STEKPI.

Lapak pertama saya di Kompleks Vila Nusa Indah 3. Kebetulan (kalo niat lagi kencang, banyak kebetulan berdatangan, ya?) ketika saya lewat disana (saya punya rumah yang dikontrakkan, setahun sekali belum tentu saya tengok, tapi kok kemarin tumben kepingin lihat-lihat) ada pengumuman bahwa mulai minggu depan, tanggal 13 Desember 2009 akan dibuka Bazaar Warga. Infaqnya cuma Rp 5.000, setiap hari minggu jam 06.00 - 10.00. Selain bazaar, akan ada senam pagi. Untuk pendaftaran bisa menghubungi panitia yang nomornya ada di spanduk.

Wah, lumayan banget. Saya membayangkan, disini saya tidak perlu malu atau apa. Karena pesertanya pasti ibu2 atau keluarga yang niat belajar jualan. Hari sabtunya saya kulakan kaos, manset dan celana legging, total sekitar 4 lusin. Besoknya, dari rumah habis sholat subuh langsung berangkat, bawa meja dapur, kursi organ, bawa semua hanger baju yang ada dirumah dan pinjam jemuran (mulai sekarang, setiap hari minggu menjemur baju di pagar saja, karena jemurannya sedang dialih fungsi) : muat satu mobil Karimun. Dari Kelapa Gading, masih gelap-gelap, langsung tancap gas...

Sampai disana, dugaan saya benar. Isinya 'pemain baru' semua. Dagangan digelar serba alakadar, tapi ditawarkan dengan penuh semangat, dan dengan harga masih malu2 (niat ngambil untungnya masih pada mikir, hehe...). Hari pertama itu, dagangan saya termasuk yang lumayan laku. Saya jual kaos ABG yang dijual cuma 20ribuan. Ambil untungnya benar2 tipis. Maklum, saya masih perlu disemangati. Bentuk semangatnya antara lain adalah : ada yang mau beli jualan saya. Kalau ambil untung besar dan nggak laku, bisa down saya.

Tapi manset dan celana legging saya, susah banget lakunya. Ya, disini saya belajar selera pasar. Keuntungan hari pertama : Minus Rp 24 ribu, karena saya memperhitungkan bensin dan tol. Untuk tidak memperdalam kerugian, saya bela-belain nggak beli makan/minum. Prihatin deh..


Minggu depannya, saya ikut lagi. Tetangga saya, sudah nambah modal tenda. Saya sudah nambah modal body display. Intinya, peserta Bazaar yang kemarin, minggu ini semua sudah dalam tahap 'mengembangkan sayap' bisnis masing-masing. Jenis barang yang dijual dibanyakin, meja2 ditambah, display ditambah. Harga lebih variasi. Ada yang sudah mulai berani cetak brosur. Ck..ck..ck... hebat juga semangatnya para beginner ini.

Wah, wah, persaingan makin tajam nih. Tapi alhamdulillah pembelinya juga lebih banyak. Saya masih tetap minus. Tapi cuma Rp 9 ribu. Insya Alloh, minggu depan bisa surplus.

Nah kebetulan (lagi), pulang dari Villa Nusa Indah 3 saya lewat Pulomas untuk isi bensin. Ya, ampun... di sana ada pasar kaget juga. Surving sana-sini, ternyata sudah 4 tahun.


Saya kemana aja selama ini ya? Kok baru tahu. Jalan-jalannya cuma ke Mall, sih... Ditimbang-timbang, kalo saya jualan disini, Insya Alloh bisa surplus, karena bensin dan tol tidak usah dipikirkan... Selain itu, pengunjungnya juga jauh lebih ramai, tidak hanya sekedar pengunjung yang sedang olahraga pagi.

Bismillah, dicoba deh...

















Jumat, 01 Januari 2010

Mengenalkan Anak pada Dunia Usaha

Mengenalkan anak pada dunia usaha, awalnya saya coba cari 'literatur pembenaran'. Salah satunya ada di http://blog.keuanganpribadi.com/mendidik-si-ucup-menjadi-pengusaha, atau buku Mendidik Anak Menjadi Pengusaha dari Wiji Suprayogi.

Alhamdulillah, kegiatan paling menyenangkan bagi kedua anak saya adalah : bersama mamanya. Mungkin karena saya harus meninggalkan rumah untuk bekerja lebih dari 12 jam sehari, sementara papanya adalah pelaut yang berbulan-bulan baru pulang. Jadi they're always miss their parent. Sehingga diajak kemanapun, anak-anak tetap happy, selama bersama mama...

Selain ikut les untuk mendukung pelajaran sekolah, anak-anak hanya sedikit kenal game yang hanya hura-hura, seperti balap motor, fighting, dsb. Kebanyakan game yang mereka punya adalah game bekerja. Jadi pelayan restoran, punya toko, pengasuh anak, dsb. Tujuannya supaya mereka tidak awam dengan dunia cari uang saku dimasa sekolah.

Selanjutnya ya mereka ajak mereka melihat seperti apa dunia kerja itu. Dulu, ayah saya bekerja di perusahaan asing retail. Setiap minggu dia ajak saya muter keliling memeriksa toko-toko, melihat dia menyapa customer, memuji dan menegur pegawai, dan berdiskusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi toko tersebut. Pengalaman tersebut cukup bermanfaat untuk diaplikasikan ketika saya ditempatkan di cabang oleh kantor, dimana saya harus berhadapan dengan retail customer. Setiap minggu saya punya tugas tambahan untuk menyapa customer sekedar atensi atau untuk menyampaikan produk baru. Sayangnya saya tidak bisa ajak anak-anak. Karena bisnis kantor saya berbeda dengan bisnis kantor ayah saya. Kalau saya bawa anak-anak, malah jadi bumerang, karena saya terlihat tidak profesional.

Oke, ada waktunya untuk mengenalkan mereka dunia kerja formal nantinya. Sekarang waktunya dunia informal. Jadi pedagang dululah. Akhirnya pilihan pada barang yang digemari anak-anak : mainan, makanan, atau pakaian. Pilihan jatuh pada pakaian anak. Saya ikut sertakan mereka untuk memilih model, melipat pakaian, menggantung, dan menempelkan label harga.

Selanjutnya mereka akan saya ajak jualan. Insya Alloh mereka bisa menjadi anak-anak yang kreatif, tabah dan dan pantang menyerah.

Ada satu pembenaran lagi yang saya peroleh :

Marti Ahtisaari mantan presiden Finlandia berkata dalam penganugrahan nobel (disiarkan di RCTI tanggal 31 Desember 2009) : Saat ini terdapat 1.3 milyar kaum muda yang membutuhkan pekerjaan. Hanya 300 juta yang berhasil mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang pantas. Kemana 1 milyar sisanya? Akan kita biarkan jadi kriminal, atau direkrut oleh teroris? Mendidik mereka jadi entreprenur adalah cara untuk mencegah hal tersebut.

Well, banyak benarnya. Bahkan perusahaan besarpun akan mengalami masalah penurunan market share bila kebanyakan pegawainya lebih suka mengerjakan tugas-tugas administrasi. Jiwa entrepreneur tidak hanya berguna untuk diri sendiri, tapi juga untuk perusahaan tempat kita bekerja, bila kita menganggap perusahaan sebagai milik sendiri yang perlu dijaga dan dikembangkan.


MENYIAPKAN MASA DEPAN ANAK

Hidup saya sejauh ini lancar-lancar saja. Saya tidak pernah melihat kedua orangtua seperti kerepotan atau banyak mikir tentang sekolah, pekerjaan dan masa depan anak-anaknya. Tapi kok beda dengan saya sekarang ya?

Melihat sekolah di kelompokkan (bahkan sekolah dasar negeri dibagi menjadi sekolah standar reguler, standar nasional, standar internasional). Universitas Negeri yang sudah berswasta-ria. Biaya masuk kuliah negeri yang bisa puluhan sampai ratusan juta. Saya jadi mikir, bagaimana nasib anak saya nanti?

Kantor saya cukup membekali saya dengan ilmu financial planning. Bahwa berapapun penghasilan, sebenarnya bukan masalah, asalkan ada kemauan untuk melakukan planning dan disiplin dalam menjalankannya.

Saya berusaha, agar pada saatnya nanti ada cukup biaya untuk sekolah yang dimimpikan oleh anak-anak :

Karena percaya telah menjaga kesehatan keluarga dengan baik, saya lebih memiliki asuransi unit link (lebih ke investasi) daripada asuransi jiwa yang based pada kematian atau penyakit, sehingga hasilnya nanti saya harap lebih optimal.

Saya berinvestasi pada property dengan ukuran kecil, karena kabarnya lebih likuid untuk dijual. Saya akan siap menjualnya pada saatnya anak masuk kuliah nanti.

Punya saham? Belum dululah... Minimal harus punya 50 juta untuk deposit di Broker. Tapi saya punya reksadana.

What else, untungnya saya tidak fashionable, sehingga tidak banyak uang terbuang untuk shopping fashion. Lumayan, jadi bisa menabung dan tidak grasa grusu gesek kartu kredit.

Tetap saja saya gak pede. Mendengar masuk kedokteran UI bisa 200 juta. Mendengar ada teman pegawai (level supervisor) terpaksa membuat surat miskin agar anaknya dapat keringanan untuk masuk Universitas Negeri (sempat bikin rame karena pihak Universitas melakukan konfirmasi ke kantor. Masa' kantor saya yang terkenal hebatnya, punya pegawai mengeluarkan surat miskin. Saya rasa ini bukan salah si pegawai, tapi dari dulu kita semua sudah terpatri bahwa masuk UN itu murah, jadi orangtua pede aja cuma mengandalkan otak sang anak).

Selama saya belum masuk kategori big boss, sepertinya gak akan saya bisa ngejar angka-angka fantastis biaya pendidikan. Jadi, masa depan anak saya, tergantung pada anak itu sendiri.

Kalau dia pintar, bisa dapat beasiswa. Karena saya bukan turunan jenius, sepertinya anak saya juga. Tapi dalam tubuh saya mengalir karakter bersemangat dan kerja keras. Yang penting tentukan goalnya, dan harus percaya bahwa hasil yang dicapai adalah buah dari semangat dan kerja keras.

So, kalau dia mau kerja kantoran dengan kedudukan lumayan (sehingga cukup lega untuk sedekah dan memberikan pendidikan yang baik untuk keluarga), dia harus berusaha meraih pendidikan formal yang baik. Anak-anak saya bukan jenius, tapi saya percaya mereka smart. Jadi carilah jalan untuk sukses di pendidikan formal dengan modal keuangan tidak seberapa dari orangtuanya.

Kalau pendidikan formal yang baik sulit dicapai, saya tidak mau anak-anak saya jadi pengangguran. Saya sudah lebih dari separuh menjalani hidup (rata-rata umur orang Indonesia hanya 60 tahun 'kan?). Minimal yang bisa saya sumbangkan pada bumi yang akan segera saya tinggalkan ini adalah saya tidak menurunkan para benalu.

Jadi, mulai sekarang saya tunjukan dunia lain kepada anak-anak. Ada dunia lain selain berangkat pagi pulang malam yang selama ini dilakoni kedua orangtua mereka : dunia usaha.

Orangtuanya ini tidak punya keturunan pedagang, kami selalu sukses bekerja pada pihak lain. Sehingga untuk menunjukkan dunia lain (yang kami sendiri belum pernah terjun didalamnya) ini, jangan diketawai ya, Nak. kalau banyak errornya. Yang jelas, tidak sedikitpun mengambil hak dari kantor saat ini. Tujuannya agar semua tindakan tetap berkah, karena tidak ada yang dirugikan.

Kelak, anak-anak silahkan memilih. Dengan selalu melihat, mendengar dan ikut terjun membantu, mereka tidak akan canggung untuk masuk kemanapun.












Minggu, 27 Desember 2009

IMPIAN DI VILLA TDA - INVESTASI UNTUK RUMAH TINGGAL (some repeated)

Pak Rawi Wahyudiono http://rawiwahyudiono.wordpress.com/2009/10/10 adalah seorang teman dari TDA Bekasi (kita belum pernah ketemu Pak, semoga gak marah diaku-aku teman) yang sedang antusias dengan masalah property. Lewat Property Plus, semangatnya menular ke teman-teman di TDA Jaktim. Sehingga akhirnya saya ketemu blog Pak Rawi.
Seru juga mengikuti lika-likunya memperdalam property bersama TDA dan EU(seru juga tulisan2 di blog-nya), Insya Alloh bisa jadi boss property..
Saya mendukung semangat untuk mendirikan Villa TDA. Tapi saya ada harapan, semoga bisa dipertimbangkan :
Sebaiknya tidak hanya developernya yang TDA, tapi juga penghuninya. Sehingga kompleks perumahan harus dibuat strategis dan kondusif untuk kegiatan bisnis.
Caranya :
  1. Perhitungkan lebar jalan didepan rumah. Terus terang, developer hanya menyerahkan pada pembeli untuk melihat site plan pembangunan, dan pembeli akan menterjemahkan sendiri apa artinya ROW di depan kavling yang dibeli. ROW 16 pasti dianggap lebar jalan 16 meter. ROW 7 lebar jalan 7 meter. Padahal prakteknya hanya 60% yang efektif untuk kendaraan, karena sisanya untuk pengairan dan penghijauan. ROW 7, artinya jalan yang bisa dipakai lewat cuma 4 meter. Coba bayangkan bila kondisi rumah berhadap-hadapan. Berarti mobil tidak bisa parkir di jalan (karena bila 2 rumah berhadapan saling parkir mobil di depan rumah, tidak ada space lagi untuk lewat). Susah dong, untuk pengembangan bisnis.
  2. Buatlah fasos minimal untuk warga berupa lapangan olahraga. Ketua RW atau siapapun, bisa mengkoordinir untuk mengadakan bazaar atau pasar kaget rutin di lapangan ini. Sangat bermanfaat untuk penghuni belajar jadi TDA. Atau bisa juga ber bazaar di jalan, dengan catatan jalan cukup lebar untuk itu.
  3. Please, please, jangan buat cluster atau portal sana-sini. Biarkan warganya aktif menggiatkan siskamling (siskamling warga cocok untuk ajang silaturahmi warga laki-laki, kalo perempuan 'kan di arisan). Kompleks tertutup tidak feasible buat bisnis. Karena mau masuk saja sudah harus nyerahin KTP. MMD... Males Masuk Deh...
  4. Daerah terbuka juga memudahkan angkutan umum lewat. Nature-nya angkot itu, memang sebanyak mungkin muter-muter. Jalan-jalan sempit di daerah Rawamangun padat dengan toko, distro, kursus, warung, apapun... Ya, karena angkot terbuka lewat disana. Yang, diuntungkan warganya, tidak perlu jalan jauh-jauh untuk nyetop angkot and lingkungan kita jadi asyik untuk bisnis.
TDA dan EU cukup aktif mengkampanyekan bahwa Indonesia idealnya punya 2 juta entrepreneur. Percaya deh, seperti koin Prita, kampanye ini banyak dapat sambutan. Belum kelihatan memang, karena saat ini sebagian besar masih dalam bentuk embrio. Kaitannya dengan Villa TDA? Daerah yang ramai kegiatan bisnis, awalnya mungkin macet dan crowded, tapi selama ini pemerintah juga tidak diam, pelan2 difasilitasi deh daerah yang sudah ramai. Lumayan, jalan dibagusin, dilebarin, banyak perumahan baru disekitar, naik deh harga rumah kita.
Demikian harapan saya, mohon sharingnya..

Rabu, 23 Desember 2009

IKUT SEMINAR CIPTO JUNAEDY

Karena lagi senang cari-cari ilmu diluar kerjaan sehari-hari. November kemarin saya ikut seminar Property Tanpa Uang dari Cipto Junaedy. Iklannya ada di Kompas, Free, diadakan di Hotel SuisBell Mangga Besar jam 18.00-21.00 dan menjanjikan banyak trik untuk punya property tanpa uang.

Kebetulan saya punya tabungan pendidikan yang bunganya minim banget - INGAT, HASIL INVESTASI HARUS BISA MENGALAHKAN TINGKAT INFLASI, jadi kalo inflasi setahun 10%, dan suku bunga tabungan kita cuma 3%, ya nggak nendang - karena tabungan tersebut akan jatuh tempo, saya sedang berusaha cari gantinya. Jumlahnya tidak besar cuma 700rb sebulan, kalo dialihkan ke KPR, mungkin akan lebih menguntungkan karena kabarnya investasi property bisa 10% - 20% setahun. Cukup untuk mengalahkan inflasi kan?

Dengan semangat itulah saya ikut seminar ini.

Sebagian besar waktu seminar (atau mungkin untuk menunggu peserta datang memenuhi ruangan ya?) isinya untuk memotivasi peserta kalau mereka yakin, bisa lho beli property tanpa uang.

Sekitar jam 20.00an barulah tipsnya muncul.

Pertama : JADIKAN PROPERTY KITA SPOT UNTUK PASANG BILLBOARD.

So, pertama-tama, cari property yang lahannya bisa dijadikan spot tempat pasang Billboard perusahaan. Hubungi pemiliknya, bayari akte notaris untuk Akad Jual Beli, tapi minta waktu pada pemiliknya agar pembayaran atas propertynya bisa ditunda.
Selanjutnya cari Bank untuk minta KPR, bersamaan waktunya cari juga perusahaan yang mau pasang Billboard di lahan tersebut. Setelah perusahaannya dapat, gunakan uang dari penyewaan lahan Billboard untuk bayar uang muka KPR. Selanjutnya gunakan uang KPR untuk bayar propertynya.

Kedua : JADIKAN TAMPAK MUKA PROPERTY ANDA UNTUK DIPASANG WALLSIGN PRODUK PRODUK IKLAN

Kalau yang ini, kita harus punya toko dulu. Lalu bagian muka toko kita (biasanya lantai atasnya)kita sewakan pada perusahaan yang mau pasang produknya di toko kita. Jadi kalo tokonya toko electronik, kita bisa minta Sony, Sharp, Panasonic, dll, untuk pasang wallsign di toko kita. Hasil sewanya bisa untuk bayar cicilan KPR.

Bagaimana? Simple? Ya, didunia mana sih yang tidak mungkin. Tapi sepertinya susah buat saya.

Kalau mau tahu belasan strategi yang lain, kita harus ikut seminar berbayarnya. Satu hari full, Rp 2.500.000,- (tapi harus beli bukunya dulu seharga Rp 90.000,-, dan daftar saat itu juga).

Di akhir seminar, Cipto menyuguhkan situasi seminar di berbagai tempat dan penjelasan dari sang pemberi seminar atas tokoh2 yang katanya telah sukses membeli property tanpa modal.

Karena modal ngepas, saya cuma sanggup beli bukunya. Hardcover Rp 90.000,- sekitar 100 lembaran. Terus terang, buat pecinta baca, ini buku, nggak banget. Karena 3 jam kita harus mendengar omongan, dan tertarik membeli buku dengan harapan ada yang lebih dari sekedar isi seminarnya, tapi ternyata isinya mirip banget dengan omongan seminar.

Tapi ada lho, yang beli bukunya, trus ikut free seminarnya, dan bersemangat daftar seminar berbayarnya..Karena masih penasaran dengan isi seminar berbayarnya, saya coba deh browsing, dan ini yang saya dapat dari forum.detik.com :

31st July 2009, 09:55
antoup
Registered Member Join Date: May 2008
Location: Jakarta
Posts: 1

Oreo

--------------------------------------------------------------------------------

Saya share perihal seminarnya Cipto Junaedy bro,
Saya juga termasuk salah satu peserta seminarnya dia, waktu itu saya dateng ke previewnya dan cukup menarik. Yang membuat menarik adalah cara mencari uang dalam jumlah banyak, dengan usaha cerdas, dengan cara membeli properti tanpa uang. Di preview tsb juga ada sedikit motivasinya, jadi selain mengajar berbisnis properti, dia juga bisa juga sebagai motivator.

Tapi saya sadar, seperti halnya seminar2 lain yg saya ikutin, tidak semua peserta seminar sukses. Hanya 10% atau mungkin kurang dari katakan 8 lajur kursi x 8 baris x 2 bagian , katakan 100 peserta waktu itu, yang berhasil menerapkan ilmunya.
Sedangkan yg 90% tidak jelas mau kemana, tidak bisa action dan tidak bisa langsung dapat duit.

Dan saya termasuk yang 90% nya ini.

Di awal memang saya sudah menyadari, dengan mengikuti seminar seharga 2 juta ini saya punya potensi resiko gagal atau berhasil. Tapi saya tertarik karena dia bilang yang tidak berpengalaman PUN bisa berhasil, lalu ya tidak ada salahnya saya menggesek dengan menggunakan kartu kredit untuk ikut seminar ini.

Menurut saya seminar ini bisa dilakkukan oleh orang yang sudah pernah berbisnis properti / agent properti / pemain properti yang sudah lama. Kalo sama sekali belum, maka kalian harus memiliki effort dan kerja yang super keras, karena ternyata pengalaman yang dibutuhkan cukup banyak untuk menerapkan strateginya dia. Memang ada cara dia supaya berhasil, yaitu dengan mentoring gratis 6 bulan. Tapi, saya hanya bisa pasrah saat saya telepon tidak diangkat (mungkin lagi seminar) dan sms tidak dibalas.

Atau bila loe cuma mau mendapatkan informasinya saja, ya boleh lah dateng ke sana, tapi jangan ngarepin banyak.


Atau kalian akan bernasib sama seperti saya, yg tidak bisa menjalankan sampai sekarang ini.

Atau sharing dari yang pernah liat testimoni :

9th July 2009, 08:52
bodpoq
Mania Member Join Date: Feb 2009
Posts: 2,399


--------------------------------------------------------------------------------

Quote:
Originally Posted by ishadow76
Saya baru ikut seminar nya sich tanggal 20 Juni 2009

Tadinya saya tidak mau ikut, karena saya juga korban dari seminar2 mahal investasi lain nya tapi bukan properti tapi dalam pasar modal
Alasan saya ikut:
1. harga tidak semahal seminar lain nya
2. yang saya suka di sini ada mentorship 6 bulan, bener seperti yang di katakan teman kita membuat kelompok terdiri dari beberapa orang lalu kita coba beli properti tanpa uang
3. saya setiap ikut seminar lebih memilih percaya karena ada kemungkinan berhasil daripada sudah tidak percaya dari awal kalo sudah tidak percaya dari awal kan sudah tidak mungkin berhasil, karena saya bukan high salary employee seperti teman2 jadi jalur saya untuk berhasil yah street fighter (belajar di jalanan)

apakah ini sesuatu yang mudah? saya jawaB JUJUR ini SUSAH tapi bukan berarti tidak mungkin, dan selalu hukum berlaku 90:10 dari yang ikut paling hanya 10% yang berhasil sisanya tidak berhasil

banyak seminar yang ngajarin beli properti dapat uang dengan cara begini:
Cari harga properti murah sekali, biasanya jaman krisis skrg banyak orang butuh uang jadi jual properti mereka misalkan harga properti di pasaran 1 M, maka karena orangnya butuh duit maka di jual 700 juta. Lalu kita ajukan KPR, dan selalu ada orang bank yang appraisal harga rumah tersebut, nah kalo orang bank setelah menilai ternyata harga pasaran 1 M, maka biasanya KPR yang di setujui 80% jadi kita dikasi pinjaman 800 juta sedangkan kita membeli 700 juta kan, maka nya ada cash back 100 juta ini yang banyak di ajarin di seminar2 membeli properti tanpa uang malah dapat cash back. Ini udah banyak sekali orang yang berhasil menggunakan cara ini. TETAPI INI TIDAK DIANJURKAN DI SEMINAR BP CIPTO
kpr di seminar Bp Cipto itu opsi terakhir karena logikanya 100 juta itu bukan profit tetapi sebagai beban kita karena pinjaman kita di bank 800 juta dan kita tetap harus membayar bunga.

testimoni pertama saya tidak percaya sama testimoni di koran2 sampai setelah ikut mentorship ke dua kali. ada orang yang kasi kesaksian
namanya Bp Pri dia beli properti senilai 8 M tanpa uang
ceritanya gini:
dia dapat properti nilai nya 11 M karena yang punya nya sudah frustasi akhirnya di tawar 8 M dikasi, tapi di kasi waktu 1 bulan untuk bayar.
nah kebetulan di sebelahnya ada POM bensin dia butuh perluasan lahan, ditawarin sama Bp Pri untuk sewa properti di sebelah rumahnya sebesar 5% dari harga pasaran rumah tersebut karena untuk usaha maka yang punya pom bensin mau sewa 15 taon => berdasarkan harga pasaran 11 M dan sewa per taon 5% maka dalam 15 taon sewanya 8,25 M
jadi Bp Pri benar2 beli tanpa uang malah dapat cash back 250 juta dan ini sudah profit dan propertinya jadi milik pribadi

SAYA DENGAR SEPERTI DONGENG SAJA jadi saya percaya mungkin terjadi tapi emang tidak gampang, tapi yah kalo semua gampang semua orang udah pada kaya donk wakakakaka
tapi yah saya tetap mencoba belajar dan ga tanggung2 saya belajar dari sisi investor saya juga belajar dari sisi broker, makanya saya gabung jadi marketing broker juga

kalo ada teman2 mau jual atau beli rumah kontak saya, bisa saya bantu
oh yah lokasi saya di Jakarta
021-946 90 956

ini sharing saya buat teman2 di detik semoga bisa sebagai bahan masukan tapi jika tidak menarik yah sudah anggap saja angin lalu

cheers
--------------------------------------------------------------------------------

mau nanya dong...

dia jelasin gak bayar properti 8 M pake apa?

dia kan sewain tuh, dapet 400jt/tahun...

tapi kan dia harus bayar properti 8 M nya di awal...apakah dia bayar cash, atau kredit? kalo kredit kan harus bayar DP? dari mana? apa dia pake juga strategi yang umum??

13th July 2009, 09:43
bodpoq
Mania Member Join Date: Feb 2009
Posts: 2,399


--------------------------------------------------------------------------------

Quote:
Originally Posted by ishadow76


bro bodpog trus terang aja saya ga bole jelasin di sini, cuma saya coba jelasin de tapi sebisa saya semoga teman2 terbuka mata nya

harga 8 M itu sudah di tawar, harga pasaran 11 M
jadi patokan nya sewa itu dari 11 M bukan dari 8 M
11 M x 5% (biasa sewa di indo setaon 4-5%) = 550 juta

jadi pertaon dapat 550 juta tapi disewa 15 taon
15 taon x 550 juta = 8,25 M

PROSES nya
beli harga 8 M dengan membuat PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) di dalam PPJB di tulis salah satu klausulnya yaitu meminta waktu pembayaran dalam kasus ini dapat 1 bulan, harus bayar kontan atau kalo tidak perjanjian gugur dengan sendirinya.
setelah mendapat PPJB ini sudah kuat dan bisa di bawa ke notaris untuk melakukan perjanjian sewa jadi dapat uang dulu 8,25 M kemudian besok nya bayar untuk pembelian properti senilai 8 M

mudah2an bisa membantu

ini sedikit sharing saja mudah2an membantu

pertanyaan-nya belon kejawab...dia kan cuma dapet 550 jt...
tapi bagaimana dia bisa bayar 8M???
kalo gak bisa dibuka untuk umum, PM aja..g cuma penasaran doang..pake cara apa dia bayar 8 M itu..

13th July 2009, 12:12
lync
Registered Member Join Date: Jul 2009
Posts: 8


--------------------------------------------------------------------------------

maksud dia kayaknya 8.25 m itu dibayar dimuka, jadi langsung tunai keras sebelum jatuh temp yang diberikan di empunya tempat. Mungkin? mungkin aja...karena biasanya perusahaan besat memang sewa 15-20 tahun dimuka, tujuannya untuk mengikat harga. kalau dia bayar partial hatga tidak mengikat, dan biasanya akan naik, jadi beresiko terhadap rencana kedepan.

saya juga lagi praktek, iseng2 tembak aja tanah komersil yang sangat prospektif di serpong, akan bagus untuk setahun ke depan, menurut jajak pendapat..he..he.. 7000 m nilai 20m? ...emang punya modal? kaga..he..he...trus?...ya xoba aja...ga bayar ini....nah percaya ga percaya...kalau kita mau mulai, ide dan alam semesta seakan2 mendukung. Persis dengan cara diatas, saya iseng lagi buat surat terbuka dan hubungi bagian business development perusahaan2 terkenal atau kantor2 atau bak atau tempat makan terkenal. pucuk dicinta ulan tiba sekarang ada 2 yang nyangkut, tuh tanah tak bagi2, ada 2 yang 2000m2 dan 1 yang 3000m2. sistem sewa 20 tahun, ada yang bagi hasil. moga2 tembus deh, doain aja, ga tembus juga ga pa2, namanya juga usaha gratis.

trus bayarnya ke developer?...pake daun?emang mereka mau kasih waktu lama? ya ga...tapi saya minta grace period 2 bulan plus nego cash bertahap setahun harga tetap.....dikasih?yup...syukur dikasih...sekali lagi namanya juga usaha..kalo diem ya pasti ga dapat apa2.

yang tertarik sistem2 seperti ini ayo diskusi di gemateam@yahoogroups.com. ilmu lama mengajarkan bayar cicilan bank pake usaha dan sewa. itu lama, ilmu sekarang, beli properto cash keras, setelah beli hasil usaha atau sewa jadi income bulanan, bukan buat bayar properti. Ilmunya banyak, tapi kudu praktek, intinya menurut saya berbau2 mengajak kerjasama saling menguntungkan ke pihak ke3, tapi bukan investor....penasaran?sama...!!! makanya coba2 iseng2 berhadiah


lync
View Public Profile
Send a private message to lync
Find all posts by lync

#20 13th July 2009, 22:27
pengamatpolitik
Addict Member Join Date: Oct 2008
Posts: 445

--------------------------------------------------------------------------------

Nearly impossible.. tapi bukan berarti tidak mungkin.. bisa saja..
Hanya di masa GFC dan deflasi seperti sekarang ini..
dimana perputaran uang semakin lemah..

apakah masih banyak orang yang berani komit kepada suatu pengeluaran uang jumlah besar? dalam sekali bayar?
Hampir setiap hari banyak berita mengenai rescheduling hutang, penundaan pembayaran, atau perubahan pola bayar yang tadi nya lumpsum, sekarang jadinya di cicil..

Nearly impossible, tapi ya kalau ketemu pihak yang cocok, bisa saja.

kemungkinan nya jauh lebih kecil daripada seorang agen asuransi jiwa mendapatkan klien..

tapi selama masih ada kemungkinan, memang bisa dicoba, asal kerja keras dan mau berbuat, Tuhan yang memberikan jalan nantinya ya

14th July 2009, 14:51
lync
Registered Member Join Date: Jul 2009
Posts: 8



--------------------------------------------------------------------------------

Quote:
Originally Posted by pengamatpolitik
bagaimana caranya supaya anda tau alamat businees development perusahaan2 terkenal?apa yg anda maksud dgn bak?klo biaya sewa selama 15 thn ampe 20 thn sama dgn atau lebih murah dr harga propertinya atau lebih mahal sedikit dr harga propertinya skrg,knp perusahaan2 besar ga membeli propertinya aja sekalian?bos2 perusahaan itu ga bodoh,bro.mereka pasti berpikir:klo gue beli tanah/tempatnya dgn harga yg sama dgn harga sewa,mendingan gue beli aja sekalian tanahnya/tempatnya. lalu mereka mau menyewa tanah itu jika anda sudah memperlihatkan sertifikat asli tanah itu (sertifikat tanah/tempat itu hrs atas nama anda).sedangkan anda belum diberi sertifikat tanah itu oleh pemiliknya krn anda belum membayar/melunasi harga yg disepakati.bagaimana mereka(calon penyewa) mau membayar lunas harga sewa tempat/tanah itu kepada anda sebelum anda memperlihatkan sertifikat tanah/tempat itu kepada mereka?

maksudnya bukan bak, tapi bag (bagian). Gimana caranya tau bagian business development?langkah pertama, cari nomor teleponnya, di internet, dicabang terdekat, koran mungkin, majalah franchise atau apapun. Coba telpon tanya kantor pusat dan nomor teleponnya, cari bagian BD-nya, coba pancing info mau buka cabang gak, baru kemudian tawarin, meskipun tanah atau bangunan belum ada. ngomong doank gratis kan?
Bro, emmang bener kata lo, kalo nilai sama ngapain mereka ga beli? itung2an matematikanya memang bener, jadi kalo tanah komersil yang gue maksud itu 4jt per meter, harga sewanya drastis banget menurut developer dan broker sana, cuman 50-60rb per meter per tahun, paling ditotal gue cuman dapet 25% dari nilai yang gue butuhkan...itu cara normal...tapi...sebelum gue bikin surat terbuka ke BD perusahaan2 itu, gue tanya dulu...kiri kanannya mau dibikin apa?wah ternyata, akan dibangun universitas yang cukup terkenal dan tampaknya akan menyedot mahasiswa banyak, lalu ada showroom kendaraan merek besar, 3 resto besar, tempat belanca kelas ITC, hotel bintang 4, lah...pantes harga mahal.....lalu ga jawab pertanyaan nih, emang mau yang kita tawarkan tadi bayar lebih mahal? TENTU MAU! kenapa?karena mereka tidak semuanya punya info mahal dan strategis itu. Begitu saya bilang saya punya tanah dan dalam setahun ke depan akan sangat ramai dan dibangun perusahaan2 dan pusat keramaian itu, maka nilai sewa saya ajukan 4 kali lipat dari harga normal. Pada saat mereka cek informasinya pun akan sama. Tapi jika ingin sewa harga murah, sudah tidak bisa lagi, karena saya punya perjanjian khusus dengan si empunya tanah. Faktor kedua, sewa 20 tahun dengan harga agak tinggi dan yakin akan bagus akan lebih baik daripada sewa partial, karena nilai tiap tahun akan naik. Untuk perusahaan2 tertentu, konsep sewa memang jadi pilihan jangka panjang sesuai perhitungan investasi mereka. Bayangkan mereka hanya sewa 5 tahun, dan bep investasi pun 5 tahun, tiba2 pas perpanjang dinaikkan 200-400% atau out, bisa habis mereka. Faktor ke3 adalah, saya split tanahnya dan memang tidak bisa dibeli partial sesuai keinginan perusahaan tersebut.

Lalu, kalo perusahaannya ga mau?ya...cari lagi sampai mau, namanya juga nyoba. Bro, yang namanya tanpa modal itu, jangan ditelen bulet2, tentu ada modal ongkos, pulsa, materai, print...tapi tidak signifikan dengan hasil. yang penting coba aja, kalau saya punya waktu 2 bulan coba, kalo ga dapet juga ga pa2, minimal da pengalaman dan database di kemudian hari ke perusahaan2 itu. Karena mungkin mereka ga ada rencana sekarang, dilain waktu ada.

Tentang sertifikat...ga harus lo punya sertifikat atas nama lo bro, secara hukum begitu ada keterikatan prinsipil yang dituangkan di perjanjian maka jual beli berlaku. tentunya gue pasti minta hal yang sama ke developer, mana sertifikatnya...copy-an...alasannya gue mau nunjukkin ke rekan gue bahwa tanahnya ga bermasalah. begitu dapet gue baru tunjukkin. Kalo kita beli rumah kredit, dan hari ini kita baru kasih tanda jadi (bukan dp), besok pun kita sudah bisa jual... apa bener?...bener bro...lo coba aja dulu he..he..udah dipraktekkan soalnya (biaya ganti nama dan pelunasan dll nanti diatur sama yang beli)..dengan catetan tuh tanah atau bangunan harus strategis. intinya disini, gue sih lebih iseng incer tanah potensial atau bangunan strategis yang mungkin mahal, tapi nilainya pasti naik, dari pada incer yang murah, menyendiri, dan berharap nilai naik. Yang palin hoki mah dapet strategis dan yang punya butuh uang segera, rela lepas berapapun yang wajar dan ga jual mahal. Jadi ilmu beli disini adalah benar2 untuk beli properti dan buat kita, bukan hanya makelarkan, kita tawar murah, terus jual mahal, tapi bukan milik kita.

Banyak jalan sih sebenarnya, memang ada faktor luck, tapi luck bisa didekati kok kalo kita mau usaha. berharap luck datang agak susah, lagi sibuk dia soalnya he...he...apalagi kalo bulan puasa, sibuk banget (co-luck, baca kolak-red)

Intinya coba aja, tetap diskusi dengan orang yang sebidang dan sealiran, jadi positif terus, selama ga bikin bangkrut dimuka, saya kira peluang ini pantas dicoba, kalo ga cocok...ya wis...gitu aja kok repot...he..he.. pis bro


lync
View Public Profile
Send a private message to lync
Find all posts by lync

#26 16th July 2009, 00:55
snip
Registered Member Join Date: Jul 2009
Posts: 2


--------------------------------------------------------------------------------

Hi bro lync,

Cara yang logis, sy setuju sekali dengan bro, asal kita mau usaha pasti bisa dapat sesuatu daripada tidak usaha apa2 malah dijamin tidak dapat apa2. Dan usahanya juga tidak pakai modal, tapi kalau tembus wow lumayan hasilnya, sy doakan semoga berhasil bro.
Cara ini dari seminar bp cipto tsb atau dari seminar lain?
Thanks

Regards,

Snip

lebih lanjutnya search aja di google.